One Heart

Feb 13, 2017

Fenomena Persatuan Ummat Islam Indonesia di Era Ini : Satu Hati, Satu Rasa

Abdul Lathif Arridha / Fakultas Dakwah dan Ushuluddin

Sebuah kejadian yang tidak bisa dikatakan kecil telah menggerakkan jutaan kaum muslimin di Indonesia untuk bersatu. Kejadian tersebut adalah penistaan terhadap Al-quran dengan pernyataan bahwa ummat Islam telah dibohongi oleh Al-Quran. Pernyataan ini sangat menyakitkan bagi kaum muslimin. Karena pernyataan ini membawa arti bahwa Islam adalah agama kebohongan. Ini juga membawa arti bahwa para penyebar agama Islam di Indonesia dari era awal kedatangannya hingga zaman sekarang adalah para pembohong. Lebih parah lagi, hal ini juga membawa arti bahwa para nabi yang membawa ajaran tauhid dan khususnya Nabi Muhammad SAW yang datang dengan agama Islam adalah para pendusta. Tentu saja ini adalah sebuah penistaan dan penghinaan terhadap agama Islam.

Ada gula ada semut. Atau, ada api ada asap. Begitulah kata pepatah sederhana orang-orang dulu untuk menjelaskan hukum kausalitas. Segala sesuatu yang menjadi sebuah sebab akan mendatangkan akibat. Bisa saja akibat itu berdatangan datangnya bagaikan efek domino. Penistaan terhadap Al-qur’an mengakibatkan tersinggungnya semua orang yang mengimani dan mempercayai kebenaran Al-qu’an. Tentu mereka adalah semua ummat Islam di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia. Perasaan satu hati, senasib dan sepenanggungan ini mendorong gerakan besar dari kaum untuk menuntut keadilan. Menuntut sang penista untuk diadili seuai hukum yang berlaku di Indonesia.

Lalu kemudian dalam penuntutan keadilan ini, boleh dibilang bahwa ini adalah sebuah fenomena yang sangat luar biasa. Dimana ribuan kaum muslimin dari berbagai daerah datang ke Jakarta untuk melakukan unjuk rasa. Mereka juga datang dari berbagai golongan, ormas, kelompok, pesantren dll. Dan pergerakan yang mereka lakukan sama sekali tidak didasari motif mencari keuntungan pribadi. Terbukti dari mereka yang bahkan rela mengeluarkan biaya yang besar untuk jalannya gerakan ini. Tidak ada perusahaan besar atau partai sekalipun yang bisa memobilisasi jutaan massa sebesar ini. Sekalipun mereka mampu menggelontorkan dana yang besar. Sehingga bukanlah uang yang menggerakkan ummat ini. Tapi ia adalah keyakinan, iman, tekad, dan perasaan yang sama. Itulah yang sejatinya hanya mampu menyatukan ummat Islam.

Pergerakan dalam menuntut keadilan pun dimulai dengan unjuk rasa demi unjuk rasa di berbagai daerah. Hingga tibalah peristiwa puncaknya yaitu berkumpulnya jutaan muslim Indonesia dari berbagai daerah pada hari jum’at tanggal dua desember dua ribu enam belas di lapangan monas. Kelak peristiwa ini lebih dikenal dengan Aksi Damai 212. 

Aksi ini membawa efek yang tidak sedikit bagi ummat Islam sendiri. Aksi ini memberikan ummat Islam pandangan baru dalam memandang Islam. Dimana masih ada sebagian dari ummat Islam yang memandang bahwa Islam hanyalah urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Tentu paham ini adalah hasil produksi dari sistem pendidikan yang sekuler. 
Bagi ummat Islam yang memahami bahwa agama hanya merupakan seperangkat praktek ritual yang bersifat rohani, aksi ini memberikan pandangan baru bahwa agama bukanlah sekedar praktek ritual. Ia juanya adalah sebuah ‘way of life’, jalan hidup. Bukan sekedar jalan hidup, tapi juga cara hidup dan gaya hidup. Sehingga pola pikir, sikap, dan tingkah laku seorang muslim menjadi islami secara kaffah dan total.

Hal ini tercermin dari ide-ide yang muncul pasca Aksi Damai 212. Berawal dari kesadaran bahwa kehidupan ummat muslim saat ini tidak lagi dimiliki oleh kaum muslim sendiri. Dimana saat kepemimpinan dikuasai oleh non-muslim, maka sebahagian besar kebijakan yang ada tidak pro akan muslim. Dan tentu saja hal itu sangat jelas bertentangan dengan dengan ajaran Islam. Hingga akhirnya aturan besar yang ada di dalam Al-qur’an itu dikumandangkan dan disuarakan. Yaitu muslim harus memiliki pemimpin muslim dan tidak boleh dipimpin oleh non muslim.

Semangat persatuan yang lain pun muncul secara beriringan. Ummat Islam harun memiliki badan-badan usaha sendiri. Ummat Islam harus memiliki lembaga keuangan sendiri. Ummat harus memiliki media sendiri. Ummat harus mandiri secara ekonomi dan finansial. Ummat harus bisa memberitakan dirinya sendiri. Berbicara dengan corong sendiri. Sehingga ummat Islam menjadi mandiri hidupnya. Tidak bergantung pada orang lain. Tidak pula bergantung pada bangsa lain. Sehingga Ummat Islam dapat berdiri di atas kaki sendiri. Merdeka jiwanya, merdeka raganya.

Banyak sekali cerita yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata tentang bagaimana persatuan ummat Islam ini bergitu menggetarkan hati. Diantaranya adalah, semangat persatuan. Bersatu hatinya, dan bersatu jiwanya. Perasaan bahwa ummat muslim semuanya adalah bersaudara. Ibarat satu badan yang apabila salah satu anggota badan itu disakiti, maka seluruh anggota tubuh juga akan merasakan sakit. Karena sama-sama sakit, maka akan saling mengobati. Berusaha menutupi luka dan tidak menambahkan goresan luka yang baru. 

Diantara cerita yang lain adalah cerita soal pengorbanan. Bahwa pengorbanan bukanlah soal sekedar tenaga, pikiran, dan harta tapi juga darah, keringat, dan air mata. Itu jelas terlihat dari berbagai pihak yang sedia berkorban untuk Aksi Damai ini. Dari pengusaha dengan suntikan dananya hingga ibu-ibu masakannya. Pengorbanan jiwa raga terihat jelas dari sekelompok santri dari sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari Jakarta. Mereka melakukan long march berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Perjalanan ini tentu mempertaruhkan harta dan nyawa dengan jarak yang para tentara belum tentu diizinkan menempuhnya. Ini adalah sebuah pengorbanan jiwa dan raga. Dan masih banyak lagi cerita yang belum bisa diceritakan.

Semua orang sebaiknya mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Semua unsur dan lapisan masyarakat tentu menginginkan keadaan yang baik demi tercapainya masyarakat yang lebih baik. Tidak ada yang menginginkan hal yang buruk terjadi terulang kembali. Saling memahami dan toleransi yang nyata adalah menjadi solusi untuk perkara ini. 

Dan yang lebih penting daripada itu semua adalah kesatuan suara kebenaran. Namun bila suara kebaikan malah tercerai-berai, ini akan menjadi keuntungan bagi para penjahat. Semoga masyarakat dan negara kita dapat melangkah menuju keadaan yang lebih baik. 

Sisanya tinggal kita berdoa dan berusaha sebaik-baiknya. Lalu nanti kita tinggal menonton sandiwara dari wayang-wayang yang akan digerakkan oleh Sang Dalang kehidupan dan kematian. Itu!

Islamic University of Medina, 13 Februari 2017
©Maddiolo D. Ablado

Juara 2 dalam lomba menulis essai di Pekan Ilmiah dan Olahraga (PEKILO) 2017/1438 H di Universitas Islam Madinah.

https://assets.tumblr.com/analytics.html?e545bd2397476017430227533432638a#http://ablado.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s