Apakah Qunut Shubuh Merupakan Bid’ah Menurut Ibnul Qayyim?

“Dan bahwasannya petunjuk Rasulullah adalah beliau qunut saat ada kejadian secara khusus dan meninggalkannya saat tidak ada kejadian secara khusus. Beliau pun tidak mengkhususkan pada sholat shubuh saja, bahkan dalam kebanyakan qunut beliau pada sholat shubuh karena dianjurkan untuk memperpanjang sholat shubuh, dan karena bersambung dengan sholat malam, dan dekat dengan waktu sahur, juga karena saat itu adalah waktu mustajab dimana Allah turun pada saat itu, juga dikarenakan sholat shubuh adalah sholat yang disaksikan oleh Allah dan para malaikatNya atau malaikat malam dan siang, sebagaimana keduanya diriwayatkan dalam penafsiran surat Al-isra’ ayat 78

إن قرآن الفجر كان مشهودا

Adapun hadits Ibn Abi Fudaik dari Abdullah bin Said bin Abi Said Al-maqburi dari ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata, bahwa Rasulullah apabila mengangkat kepalanya setelah ruku’ pada sholat shubuh roka’at kedua, beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: Allahumma ihdinā fī man hadaita…..

Maka ini adalah sandaran terkuat, jika saja haditsnya shahih atau hasan. Namun Abdullah tidak bisa dijadikan hujjah dalam hadits ini, walaupun Imam Al-hakim mensahihkan hadits qunut yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Abdullah Al-muzani dari Yusuf bin Musa dari Ahmad bin Sholih dari Ibn Abi Fudaik.

Ya, shahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dimana beliau berkata, Demi Allah aku adalah orang yang sholatnya paling sesuai dengan sholat Rasulullah, dan Abu Hurairah selalu berqunut pada rakaat kedua sholat shubuh setelah mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” dan kemudian beliau mendoakan bagi kaum muslimin dan melaknat kaum kafir.

Dan tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah melakukan ini (yakni qunut shubuh), kemudian beliau meninggalkannya. Dan Abu Hurairah ingin mengajarkan para sahabat bahwa yang semisal ini adalah perkara sunnah dan Rasulullah melakukannya juga. Ini pun membantah Ahlu Kufah yang menghukumi makruh qunut pada sholat shubuh secara mutlak, saat ada kejadian maupun tidak, dan mereka mengatakan bahwa itu mansukh dan mengerjakannya adalah perbuatan bid’ah.

Sementata ahlu hadits bersikap pertengahan antara mereka (yang memakruhkan secara mutlak) dan mereka yang menghukumi mustahab saat ada kejadian dan selainnya. Maka ahlu hadits kaum yang paling beruntung dengan hadits qunut dari kedua kelompok diatas. Dimana mereka berqunut disaat Rasulullah berqunut, dan mereka meninggalkannya disaat Rasulullah meninggalkannya. Mereka mengikuti Rasulullah disaat beliau mengerjakan dan meninggalkan. Mereka pun mengatakan, bahwa mengerjakan (qunut shubuh) adalah sunnah dan meninggalkan (qunut shubuh) juga sunnah. Mereka juga tidak mengingkari orang yang berqunut shubuh terus menerus, tidak memakruhkannya dan tidak menganggapnya bid’ah dan menyelisihi sunnah…”

Dari kitab Zādul Ma’ād fī Hadyi Khoiril ‘Ibād 1/264-266 cet. Muassasah Al-risālah. Diterjemahkan oleh Bambang Ridlo (Mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Islam Madinah). 

©Bambang Ridlo Pambudi Utomo / Sharia Faculty @bambangridloPU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s