Kesantunan Ulama : Tentang Kitab Bidayatul-Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid

20170322_224644

Perbedaan pendapat para ulama dalam bidang hukum fiqh adalah hal yang biasa dalam Islam. Pebedaan tersebut disebabkan oleh bermacam-macam hal. Salah satu buku terbaik yang mengulas perbedaan pandangan dalam fiqh ini adalah Kitab Bidayatul-mujtahid wa Nihayatul-Muqtashid yang ditulis oleh Ibnu Rusyd. Di Barat, beliau lebih dikenal dengan Averroes.

Syekh Prof. Dr. Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah Az-zahim, bekas salah satu anggota dewan pengajar fakulas di Universitas Islam Madinah, melakukan tahqiq (pengecekan), ta’liq (komentar), takhrij (periwayatan hadist) terhadap kitab ini. Di awal buku ini beliau memberikan data statistik tentang sebab-sebab perbedaan yang ada di dalam kitab ini.

Secara garis besar, beliau menuliskan lima sebab perbedaan pandangan dalam fiqh. Pertama, cara mengambil kesimpulan yang berbeda. Kedua,sebab-sebab yang berkaitan dengan Al-qur’an dan As-sunnah. Ketiga,dalalatul-alfadz atau penunjukan oleh kata atau ucapan. Keempat, ahkaam-taklifiyyah atau hukum-hukum pembebanan. Dan kelima, cangkupan tuntutan. Kelima sebab ini diperinci lagi dengan perkiraan terkuat dalam limapuluh poin yang berbeda.

Namun yang mengagumkan dari Ibnu Rusyd dalam perbedaan pendapat para ulama ini adalah kemampuannya untuk menjelaskannya dengan singkat dan jelas, namun terperinci, santun dan elegan. Beliau memulai dengan menyebutkan beberapa pendapat dalam suatu masalah. Kemudian beliau menjelaskan sebab perbedaan pendapat. Bisa jadi itu adalah perbedaan dalil yang dikuatkan oleh madzhab, atau perbedaan kesimpulan dalam suatu dalil, atau perbedaan pemahaman bahasa dan sebagainya.

Sebagai contoh, berikut adalah salah satu permasalahan yang dipaparkan Ibnu Rusyd, yaitu masalah bagian yang harus diusap saat mengusap khuff(alas kaki yang menutup mata kaki dan terbuat dari kulit). Ibnu Rusyd menyebutkan empat pendapat dalam  masalah ini.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa bagian yang wajib diusap adalah bagian atasnya saja. Sedangkan bagian bawahnya tidak diwajibkan melainkan disunnahkan. Ini adalah salah satu pendapat Imam Malik dan merupakan pendapatnya Imam Syafi’i.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa bagian yang harus diusap adalah yang terlihat saja. Maksudnya, bagian atas. Sedangkan bagian yang tidak terlihat atau bagian bawahnya tidak disunnahkan untuk mengusapnya. Ini pendapatnya Abu Hanifah, Dawud, Sufyan, dan Jama’ah (?). Dan Syekh Az-zahim menisbatkan pendapat ini kepada Imam Ahmad.

Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa yang wajib diusap adalah keduanya. Yaitu bagian atas dan bagian bawah. Ini adalah madzhabnya Ibnu Nafi’ dan juga murid-murid Imam Malik.

Berbeda dengan ketiga pendapat diatas, pendapat keempat, yaitu pendapatnya Asyhab. Ia berkata bahwa yang wajib diusap adalah bagian bawahnya dan tidak perlu mengusap bagian atasnya.

Sebab perbedaan pendapat yang ada adalah ; pertama, pertentangan hadits yang diriwayatkan tentang hal ini ; kedua, keserupaan hal mengusap dengan hal membasuh.

Kedua hadits yang diriwayatkan dan saling bertentangan adalah; pertama, hadits yang diriwatkan oleh Muhirah bin Syu’bah RA bahwa : “Sesungguhnya beliau (Rasulullah) SAW telah mengusap bagian atas dari khuff (dan juga bagian bawahnya)”.

Dan hadits yang kedua; yang diriwatkan oleh Imam Ali RA : “Jikalau seandainya agama itu (dipahami) dengan akal, maka pastinya bagian bawah khuff lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya – karena bagian bawah lebih kotor daripada bagian atasnya – dan aku telah melihat Rasulullah SAW mengusap bagian atas dari kedua khuff-nya”.

Penjelasan Ibnu Rusyd selanjutnya berkaitan dengan dasar kesimpulan dari setiap pendapat.

Dia yang berpikiran untuk menyatukan kedua hadits, dalam arti kata tidak mempertentangkannya, berpendapat bahwa hadits Mughirah RA adalah untuk istihbab (disunnahkan), sedangkan hadits Ali RA adalah wajib. Maka mengusap bagian atas adalah wajib, sedangkan mengusap bagian bawahnya adalah sunnah. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa ini adalah kesimpulan yang baik dan madzhab yang paling berbahagia. Dikarenakan kesimpulan ini tidak meninggalkan kedua hadits. Inilah madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Dia yang berpendapat untuk menguatkan salah satu dari kedua hadits, akan mengambil hadits Ali dan mengabaikan hadits Mughirah, ataupun sebaliknya.

Maka siapa yang menguatkan haditsnya Mughirah, beralasan bahwa mengusap disamakan dengan membasuh. Yaitu disaat wudhu sempurna, yang dibasuh adalah seluruh bagian telapak kaki, atasnya ataupun bawahnya. Maka, saat mengusap khuff-pun tentu haruslah diusap kedua bagiannya, yakni bagian atas dan bawah pula. Demikianlah kesimpulan yang diambil oleh Ibnu Nafi’.

Sedangkan yang menguatkan haditsnya Ali, beralasan bahwa hal ini berbeda dan tidak bisa disamakan dengan hal membasuh. Karena hal ini merupakan hal yang sudah jelas dan tidah boleh ada ijtihad di dalamnya. Maka di saat Nabi SAW membasuh bagian atas khuff-nya dan tidak membasuh bagian bawahnya, tidak ada alasan bagi pengikutnya untuk mengusap bagian bawah dengan harus meniru apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Dan juga secara sanad (jalur periwayatan), hadits Ali lebih kuat dibandingkan hadits Mughirah. Inilah madzhab yang dipakai Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

Sedangkan pendapat terakhir, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa Ia tidak mengetahui dasar dari pendapat ini. Karena tidak ada hadits yang diikuti ataupn persamaan yang digunakan.

Demikianlah salah satu permasalahan kecil dalam perbedaan pendapat masalah fiqh yang diuraikan Ibnu Rusyd dengan menggunakan metodenya. Metode ini sangat indah. Kerena menjelaskan semua hal dengan dasar-dasarnya. Dan bila tidak ditemukan dasar, maka beliau tidak akan mengada-ada. Metode yang menegakkan hujjah, dalil dan burhan. Serta dasar, alasan, dan juga kesimpulan. Beginilah metode yang benar dalam memahami dan menjelaskan perbedaan. Bukan dengan saling caci, mencemooh ataupun saling menyalahkan.

Maka hendaknya para penuntut Ilmu meniru adab kesantunan para ulama yang telah mereka contohkan dan mereka wariskan.

Islamic University of Medina, March 22 2017

© Abdul Lathif Arridha / Dakwah Faculty

Penulis bukanlah ahli dalam bidang (fiqh) ini, dan bukan pula ahli dalam bidang ulumul-hadits. Apa yang disampaikan merupakan analisis sederhana penulis dengan tujuan berbagi wawasan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s