Winter Soldier

Foto: Google

Winter Soldier

[Bukan] sebuah utas [panjang]*
Oleh Ranting Siwak

Work out di musim dingin melatih badan lebih keras daripada musim lain.

Hal itu dikerenakan suhu di luar turut menahan naiknya suhu badan saat berolahraga. Akibatnya adrenalin juga terpacu lebih lambat.

Masa warming up menjadi lebih lama. Namun kemudian, durasi kerja otot jantung dan badan menjadi lebih lama juga. Biasanya menjadi dua kali lipat.

Dan kalori yang terbakar juga lebih sedikit.

Maka bila di musim lain berolahraga selama setengah jam, di musim dingin bisa sampai satu jam. Yang biasa bergerak dua jam, di musim dingin bisa tiga sampai empat jam.

Otot-otot yang bekerja lebih banyak akhirnya lebih terlatih.

Maka metode suhu dingin ini juga dipakai beberapa olahragawan. Seperti Christiano Ronaldo yang menggunakan sepeda statis di bawah air, juga beberapa petinju yang berendam di es.

Kojiro Hyuga juga menguasai tendangan macan yang dapat meretakkan tembok, dengan berlatih melewati ombak pantai musim dingin di Hokkaido.

Dikutip juga dari beberapa bodybuilders yang suka show off di pantai (padahal belum tentu bisa berenang), katanya, “summer’s body made in winter”. Kkk…

Maka musim dingin dapat dimanfaatkan untuk melatih badan, bukan hanya sekedar berhibernasi.

Meski demikian, Imam Ghazali pernah bilang kalau saat bangun tidak membantu untuk ta’at maka tidur lebih selamat.

Ibnu Mas’ud juga berkata tentang musim dingin. Kata beliau, musim dingin itu penuh dengan barokah. Malamnya yang panjang membantu untuk sholat malam, dan siangnya yang pendek membantu untuk berpuasa.

Selamat berjuang, Prajurit Musim Dingin!

Sing semangat wintere, bro! Ojo turu ae!

Rekaman akhir musim panas lalu
Rekaman tadi pagi
Advertisements

Internet Forum

Forum internet -grup wazzup misalnya- mestinya menjadi tempat silaturrahim, mendekatkan yang jauh di mata.

Bukan mahkamah untuk mempermalukan orang lain di depan umum.

Karena perbaikan tidak datang dari perlakuan yang membuatnya lari, akhirnya dia malah tidak jadi instrospeksi diri.

Akhirnya forum internet berubah menjadi tempat berbalas benci, putus silaturahmi.

Salah satu kunci sampainya nasehat ke hati adalah bicara empat mata.

Dulu, itu bahkan masih dilakukan anak-anak sekolah. Bila ada masalah, “Let’s talk!” di tempat sepi. Misal di belakang sekolah. Kerana kalau kata-kata tidak menyelesaikan masalah, kedua pihak sudah siap untuk menyelesaikan secara ayam jantan. Itu yang dilakukan dilakukan manusia dari dulu. Kalau diplomasi gagal, berarti perang.

Maka orang dulu tidak mudah sembarang bicara. Tahu tempat dan tahu waktu. Mana yang boleh lewat jalan raya dan mana yang harus lewat jalur pribadi. Berhati-hati.

Seiring semakin mudahnya komunikasi, kini ketikan di tuts keyboard bergerak lebih cepat dari kata-kata yang keluar dari mulut, yang dipikirkan di akal dan ditimbang di hati.

Ketimbang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, forum-forum internet menjadi tempat saling mengintai, membuntuti kesalahan, bagai perangkap menunggu mangsa.

Buas.

Lalu endorfin kita mengalir deras saat berhasil mematahkan argumen lawan. Diskusi menjadi tempat mengejar kemenangan, bukan mencari kebenaran.

Kalau memang saudara, mestinya saling tutup kekurangan, bukan malah saling umbar.

Semoga sebelum mati, kita mendapat nasehat yang melembutkan hati, menyantunkan akhlak. Hingga tahu bagaimana caranya menjaga cinta yang seperti kaca agar tak mudah pecah ataupun retak.

Pagi musim dingin, Kedai Kopi Haji Rantau.

Madinah, 7 Desember 2018.

Belajar Dari Ustadz Abduh Tuasikal

img-20181023-wa00261908357369065475459.jpgMinggu lalu (Selasa 16/10/2018), PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) di Madinah mengadakan silaturrahim dengan Al-Ustadz Abduh Tuasikal. Salah seorang da’i yang boleh dibilang memiliki pengaruh di daerah, tempat beliau tinggal.

Beliau lahir di Ambon pada tahun 1984. Kemudian pada 2007 beliau menamatkan kuliah di UGM dari jurusan teknik kimia. Beberapa hari setelah beliau wisuda, beliau menikahi salah seorang gadis di daerah Gunung Kidul, Jogjakarta.

Pada tahun 2008, beliau mendirikan website Rumaysho.com. Di website ini beliau banyak menulis, meringkas kajian-kajian, juga menjawab pertanyaan seputar keislaman.

Sejak 2010 hingga 2013, beliau melanjutkan pendidikan strata dua di King Saud University. Dan di pertengahan tahun 2012, beliau meminta istrinya untuk mengajar TPA di sekitar masjid tempat beliau tinggal. Kemudian berkembang sebagai pondok masyarakat dan pada 2013, dinamakanlah pondok itu dengan pondok Darus-shalihin.

Dalam kesempatan kemarin, Ustadz Abduh Tuasikal berbagi seputar strategi dakwah kepada masyarakat pedesaan. Ada beberapa poin yang beliau sampaikan.

  1. Membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat

Menjadi seorang da’i tentu perlu untuk bisa melakukan pendekatan dengan masyarakat yang menjadi objek dakwahnya. Maka perlu menyapa, ngobrol, bahkan jika perlu ikut makan mie di warung mereka. Karena jika tidak didekati, da’i kehilangan kesempatan untuk menyampaikan kebenran kepada mereka.

  1. Menyesuaikan bahasa masyarakat yang umumnya sederhana supaya bisa lebih diterima

Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat tidak belajar apa yang seorang da’i pelajari. Dan banyak hal yang diketahui oleh da’i namun tidak diketahui oleh masyarakat. Diantaranya adalah kosakata ilmiah. Masyarakat awam membutuhkan ungkapan-ungkapan yang lebih familiar. Dan kecerdasan seorang da’i akan diuji saat harus menyampaikan pesan yang besar namun dalam ungkapan yang sederhana.

  1. Menikah dengan anak dari tokoh masyarakat

Selain mencari pasangan dengan nasab yang baik, menikah dengan anak seorang tokoh dapat membantu memudahkan jalannya dakwah. Dimana seorang tokoh memiliki pengaruh yang kuat pada masyarakatnya. Ibarat pohon yang tumbuh semakin tinggi, takkan tercabut digoyang angin bila memiliki akar yang kuat.

Maka nasab yang baik akan mempunyai peran dalam membantu jika ada masalah yang merintangi dakwah. Hal memilih pasangan dalam berkeluarga ini pun juga telah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana baginda menjadikan dua sahabatnya – Abu Bakar dan Umar sebagai mertua, dan menjadikan dua sahabat lainnya – Usman dan Ali sebagai menantu.

  1. Menjalin hubungan baik dengan aparatur pemerintahan

Dalam berdakwah, Ustadz Abduh Tuasikal selalu bekerjasama dengan pemerintah. Seperti mengundang mereka dalam setiap pengajian, mulai dari camat hingga bupati. Beberapa pemuda dari kampung juga beliau libatkan sebagai anggota KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Intinya, mendekati dan bekerja sama dengan Ormas dan pemerintah itu untuk membantu dakwah, selama tidak bertentangan dengan apa yang didakwahkan.

  1. Pengelolaan kajian yang baik dan sistematis

Seorang da’i perlu memahami bahwa masyarakat memiliki tingkatan pengetahuan yang berbeda-beda. Maka pengajian di masyarakat juga perlu dibagi agar tepat sasaran dan tepat guna. Ada kajian yang bisa diberikan untuk umum dan ada yang perlu diberikan di forum khusus. Seperti kajian khusus remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Bahkan ibu-ibu juga perlu dibagi antara ibu-ibu muda dan tua.

Lalu mulakan dengan pelajaran yang paling mereka butuhkan. Semisal dengan pelajaran mengaji Al-qur’an, praktek ibadah, zikir dan do’a.

  1. Mendirikan usaha mandiri pesantren

Pendirian usaha mandiri ditujukan untuk menghidupi pesantren. Dan melalui usaha ini, pesantren bisa memberi lapangan pekerjaan untuk warga. Usaha yang didirikan adalah usaha yang bisa hidup dan menghidupi di tengah masyarakat, seperti toko sembako, bakso, toko bangunan, dll.

  1. Pemanfaatan Internet

Pemanfaatan yang maksimal terhadap adanya website dan media sosial mengambil peran aktif dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Seperti pergerakan Ustadz Abduh Tuasikal dimulai dari website rumaysho.com. Di sini beliau mengisi dengan konten kajian, ataupun jawaban atas pertanyaan. Hingga kepercayaan masyarakat tumbuh atas aktifnya situs ini. Dan dari sinilah awal beliau mendirikan Pesantren Darus-Shalihin.

  1. Rajin Menulis

Melatih kemampuan menulis sangat penting untuk media penyampaian meteri. Pada zaman internet, tulisan lebih mudah dan cepat tersebar. Kurang dari satu detik cukup untuk mengirimkan sebuah tulisan dari satu titik belahan bumi ke bumi lainnya.

Dan perlu juga dipahami bahwa bahasa internet tidak perlu bahasa yang tinggi. Cukup pembahasan yang sederhana dengan bahasa yang sederhana. Semakin ringkas ia maka akan semakin bagus, karena semakin mudah para pembaca untuk menerima pesan yang disampaikan.

  1. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses yang bertahap

Seorang da’I yang sedang berjuang di tengah masyarakat perlu memiliki sifat penyabar yang dicontohkan para Nabi ‘alaihissalam. Jadi ia perlu menjalankan program-programnya secara perlahan, pelan-pelan. Karena hasil dakwah tidak bisa tampak semudah membalikkan telapak tangan.

  1. Keikhlasan dan jaga kesinambungan (Countiunity)

Da’i perlu menetap di daerah yang sedang ia perjuangkan. Maka jangan sampai ia mudah-mudah keluar daerahnya. Ia harus memiliki rasa bersalah jika meninggalkannya. Ia harus berjibaku disana.

Jika seorang da’ai banyak keluar daerah, bagaimana ia bisa punya waktu untuk mengembangkan daerahnya, mengawasi dan mengontrolnya.

  1. Banyak berbagi, bisa berupa sembako atau yang lainnya

Merupakan hal yang manusiawi jika manusia senang dengan pemberian. Membangun sifat memberi adalah hal yang menarik masyarakat. Apalagi jika yang diberkan adalah hal-hal yang mereka butuhkan, seperti bakti social, sembako, membangun rumah ibadah, buka puasa gratis, dan bahkan uang. Sisi ini bisa dimanfaatkan da’I untuk mencari jalan agar masyarakat mau mendengarkan.

 

Sesi Tanya Jawab

Bagaimana ustadz menghadapi undangan untuk yasinan?

Saya punya prinsip untuk tidak akan datang dan cari-cari alasan. Safar ke Jogja misalnya.

Darimana kita mulai berdakwah?

Mulai dari yang masyarakat butuhkan, atau sisi yang kurang dari masyarakat. Misalnya, mengaji Al-Qur’an, praktek Ibadah. Boleh juga dengan kajian tafsir surat Yasin.

Bagaimana strategi berdakwah kepada keluarga?

Jangan singgung ajaran mereka.

            Bagaimana kalau diserang?

Menjawab dengan baik.

Saat pulang kampung, apa yang perlu dilakukan?

Minta untuk mengisi kajian.

Bagaimana berhadaan dengan kristenisasi?

Jangan bentrok dengan mereka, kalau perlu kita juga mengadakan air bersih, sunatan, dll.

Bagaimana sikap antum dengan ormas-ormas yang ada?

Jika sejalan maka tidak apa-apa kita kerjasama dengan mereka. Dan kalau perlu juga kerjasama dengan pejabat. Undang mereka pada acara-acara.

Jika ada undangan Isra’ dan Mi’raj, Maulid?

Tidak perlu hadir. Tapi kalau sekedar momen saja boleh. Misalnya apabila tema pengajiannya umum.

Kalau ada pertanyaan yang sulit bagaimana?

Jawab dengan diplomatis. Maka bahas tema-tema yang umum saja.

Wallahu a’lam bisshawab.

img-20181023-wa00282687887030546466895.jpg

Sederhana

Memakai pakaian sederhana itu untuk merendahkan diri di atas bumi Allah, bukan merasa lebih baik dari yang berpakaian mewah atau malah merendahkannya.

Kesederhanaan sejati membuahkan tawadu’ bukan kesombongan.

Karena kesederhanaan yg dipamerkan adalah kesombongan yang direncanakan.

Kesederhanaan itu sesuai kebutuhan.

Kebutuhan bagi kamu, mungkin kemewahan bagi orang lain. Kemewahan pada orang lain, mungkin tidak sederhana bagi kamu. Karena kamu tidak butuh.

Maka bandingkan kamu dengan diri kamu. “Aku yang sederhana lebih baik dari aku yang bermewahan”. Bukan, “Aku yang sederhana lebih baik dari orang yang bermewahan”.

Nah, kalau ‘Sederhana’, Itu Rumah Makan Padang.

Intinya, jangan pakai baju bagus dipuji kaya, atau pakai baju jelek biar dipuji zuhud (tak silau dunia).

Pakailah baju dengan niat ibadah, menutup aurat. Pakaian sederhana, yang tidak berlebihan. Kalau bagus, tentu aja boleh.

“Jadi berapa harga, outfit lo?”, Eh, itu mah yutub. Bukan ente, kan?

Tukang Dorong

Tukang ojek dan tukang dorong

[Not] a [long] thread
By. Ranting Siwak

Di Makkah, ada sebuah profesi yang digeluti para WNI yang bermukim di Arab Saudi.

Yaitu jasa dorong kursi roda bagi para jama’ah haji/umroh yang berkebutuhan khusus.

Ibarat tukang ojek, para penyedia layanan ini biasanya ‘mangkal’ di depan hotel jama’ah. Lengkap dengan atributnya ‘setelan ihram’ agar dapat berkamuflase diantara para jama’ah.

Sindikat tukang dorong ini seperti sudah tahu hotel mana yang ada jama’ahnya dan kapan mereka bergerak menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf dan sa’i.

Jadi ketika jama’ah datang ke hotel, mereka langsung membidik para jama’ah yang akan ditawarkan layanan dorong.

Kemudian setelah melakukan bargaining antara jama’ah dan tukang dorong, mereka langsung bergerak menuju masjidil haram.

Perlu diketahui bahwa sebetulnya, di masjidil sudah ada layanan resmi untuk jasa dorong.

Dan biaya yang dibebankan oleh penyedia layanan resmi lebih affordable ketimbang tukang dorong mukimin.

Namun kebanyakan jama’ah tidak mengetahui akan hal ini, dan tidak semua travel umroh mensosialisasikan ini.

Lanjut lagi,

Karena jasa dorong mukimin ini ilegal, setelah berkamuflase biasanya mereka sudah memperiapkan retorika identitas hubungan dengan pelanggan.

Misal, saudara (saudara sebangsa, maksudnya), kerabat (tetangga satu proponsi, kan karib tuh, gak jauh amat), satu kakek (kakek Nabi Adam), atau keponakan ( jama’ah nya kalau laki-laki asing kan dipanggil om/paman, kalau cewek tante), dsb.

Jadi kalau ada petugas/polisi/askar yang mencegat, terus tanya-tanya, 1. Senyumin; 2. Pasang wajah tanpa dosa; 3. Ngomong pake bahasa Inggris (orang Arab minder kalau berhadapan sama bahasa Inggris); 4. Kalau keceplosan bisa bahasa Arab, ya jawab dengan informasi yang sudah disiapkan tadi.

So far.. so good…

Lalu berapa biayanya?

Nah kalau itu tanya aja sama tukangnya. Mungkin saya bisa jawab kalau udah resmi gabung. 😀

Terlepas dari itu semua, tentu kita berharap agar para jamaah mendapatkan kemudahan dalam menyempurnakan ibadahnya. Boleh jadi suatu hari tukang dorong juga punya aplikasi macam gojek/grab. ^×^

Food Business Mahasiswa

Semakin maraknya bisnis kuliner di kampus UIM, mari kita bahas sedikit beberapa tips dari para pengamat.

[Not] a [long] thread
By. Ranting Siwak

Rasa adalah koentji

Bisnis makanan, bukan sekadar bagaimana cara konsumen membeli makanan yang anda produksi. Tapi bagaimana agar konsumen jatuh cinta dengan masakan anda. Maka salah seorang chef teman saya pernah bilang, “Cooking with love”. Hingga passion anda benar-benar ‘to feed people’. Rasa yang anda ciptakan bukan sekadar menggoyang lidah tapi juga sampai ke hati. Akhirnya orang akan suka dengan apa yang anda sajikan. Ketagihan.

Roso Kuto, Rego Ndeso

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap konsumen menyukai hal yang murah meriah. Maka jangan sampai terbangun image pada makanan yang anda produksi begitu mahal.

Produk yang demikian akhirnya hanya tidak akan jadi kebutuhan. Konsumen membeli karena hanya coba-coba. Setelah tahu rasanya, yaudah ga beli lagi. Kan sayang pasarnya.

Boleh Diadu

Jangan merasa bahwa anda petarung satu-satunya.

Jadi nya gini, konsumen membeli produk anda bukan karena pilihan mereka. Tapi karena ga ada pilihan yang lain. Maka jika kualitas produk anda tidak dijaga, siap-siaplah bila datang gelombang fighter yang lain. Produsen model begini pasti ketakutan. Khawatir pasarnya akan hilang. Kalau sudah takut, dan produknya sudah tidak bisa bicara, mulutlah yang bicara. Akhirnya persaingan sudah jadi tidak sehat.

Learn More

Banyak lagi yang harus dipelajari untuk menaruh sebuah nama atau rupa di hati konsumen.

Iklan itu perlu. Maka perlu paling nggak belajar food design, food photography, graphic design.

Ibarat anda tahu bahwa burger McD itu ga seindah fotonya, tapi tetap aja anda beli.

Anda tahu bahwa ayam goreng KFC itu baru lihat fotonya, sudah terbit selera.

Itu ada ilmunya. Termasuk alasan mengapa gerai makanan banyak menggunakan warna merah/kuning/oren? Karena secara psikologi, makanan warna itu memang bikin ngiler. Misal, Bali Ayam. Tuh kan? Baru bayangin udah ngiler ente.

Udah dulu lah
Sekian

Mau tidur siang.
Ada rindu yang harus istirahat.

Jazakumullahu Khairan

Siang-siang di Madinah, menjelang musim dingin.

21 Oktober 2018

Bunda Maria

Dulu, Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam penah bilang, “Setiap anak yang terlahir sebenarnya terlahir dalam keadaan fitrah (menyembah Tuhan yang satu), kemudian orangtuanyalah yang membuatnya menjadi seorang yahudi (membangkang dari ajaran Tuhan), atau membuatnya menjadi seorang nasrani (menganti ajaran Tuhan), atau membuatnya menjadi seorang majusi (mengada-adakan ajaran Tuhan).”

Anak-anak itu tidak tahu kebenaran yang hakiki. Dan di antara manusia ada yang mengetahui kebenaran itu. Di antara yang mengetahui kebenaran itu ada yang menyembunyikannya dan ada yang merobahnya.

Maka Tuhan memberi perintah kepada suatu kaum baru. Dimana kaum itu diturunkan kepada mereka kebenaran hakiki itu melalui seorang utusannya, sebaik-baik manusia yang menginjakkan kakinya di atas muka bumi Shallahu ‘alaihi wa sallam.

Kebenaran itu disampaikan pada kaum itu. Dan kaum itu pun dituntut untuk menyampaikan kepada mereka, anak-anak yang tidak kenal akan kebenaran hakiki itu.

Proses penyampaian tidak berhenti saat masa kanak-kanak itu berakhir. Penyampaian kebenaran itu tetap diperintahkan walau anak-anak itu sudah menjadi orang-orang tua yang beruban.

Penyampaian kebenaran itu untuk kebaikan bagi manusia itu sendiri. Agar lulus dalam ujian kehidupan yang hanya ada satu kesempatan Tuhan berikan. Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, menyembah Tuhan yang satu.

Itu ujian bagi yang tahu, apakah ia berkenan menyampaikan kebenaran.

Dan ujian bagi yang tidak tahu, apakah ia berkenan menerima kebenaran.

Maria, gadis tujuh tahun dari Brazil yang lancar berbahasa Inggris, yang aku harapkan sekali keislamannya.

Dia anak kecil yang polos dan ramah. Kita ketemu dua kali di Cappadocia, 12 January 2018. Pas sore di Monks Valley, sama malam di Terminal.

________________

Madinah, 18 April 2018

Ranting Siwak